Banyak Jalan Menuju Kampung Inggris

By | 29/05/2019

Orang yang hidup jauh dari kota, kadang dianggap tak punya jalan pada kesuksesan. Saya adalah satu dari sekian banyak yang berasal dari desa yang cukup tertinggal.

Nama desa itu Gajah Mati Kampung Haduyang Ratu Kabupaten Lampung Tengah, sebuah desa yang dapat dicapai dalam waktu sekitar tiga jam dari Kota Bandar Lampung. Saya hidup di sana sejak lahir hingga 15 tahun mendatang.

Di kampung halaman itu saya menghabiskan banyak waktu untuk belajar, bermain di osawah untuk membantu orang tua saya. Sementara selepas pulang sekolah dan solat dzuhur, saya kerap pergi ke tanah lapang untuk menggembala sapi.

Tinggal di desa yang cukup tertinggal dengan segala kesulitan yang ada. Ini membuat sebagian besar orang di sana pesimis dan merasa hidupnya tanpa arah. Namun sebaliknya, saya justru memacu diri untuk menjadi pribadi yang berani bermimpi besar, optimis, antusias, dan tidak mudah menyerah.

Bisa Dicapai dengan Ketekunan

Saya percaya segala sesuatu dapat dicapai dengan ketekunan. Hasilnya memang memuaskan. Sejak berada di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP), saya selalu masuk sepuluh besar siswa berprestasi di sekolah. Namun saya punya kesulitan dalam biaya, untungnya ada beasiswa yang membantu pendidikan di Madrasah Aliyah.

Keterbatasan biaya itu makin terasa ketika ayah saya terjangkit komplikasi selama hampir empat tahun tak kunjung sembuh, saya pun terpaksa mesti mengurungkan niat untuk kuliah. Suatu hari saat saya sudah lulus Madrasah Aliyah ayah berpesan, “Bud, kuwe iki kudu pinter bongso inggres” (Bud, kamu itu harus pintar berbahasa Inggris)”, katanya dalam keadaan yang masih sakit. “Iyo”, balasku seraya melemparkan senyum.

Saya tidak mengerti, ayah yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal bisa berpesan seperti itu. Tiga bulan setelah pesan itu disampaikan, beliau dipanggil oleh Allah SWT.

Selepas ayah meninggal, saya menghabiskan waktu dua tahun untuk pergi merantau ke Kota Bekasi, untuk merasakan bagaimana mencari uang sendiri dan membantu ekonomi keluarga. Saya mengerjakan banyak hal,  mulai dari kuli bangunan, berjualan buah, berjualan lampu dan kerja serabutan lainnya.

Di Dunia Kerja

Setelah dua tahun bekerja dan merasa tidak ada pengembangan dan kemajuan diri, tahun 2012 saya memutuskan untuk nyantri di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor. Pondok itu dipimpin oleh seorang guru besar Syekh Habib Saggaf bin Mahdi. Alhamdulillah pesantren menjamin makan, tempat tinggal, kesehatan sekaligus pendidikan sarjana pada saya. Di sana saya mulai belajar dengan tekun serta mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri seperti kegiatan jurnalistik, pramuka, wajib militer, pencak silat, disain grafis  dan lain sebagainya.

Pada tahun 2017, saya lulus dari pesantren dan mendapatkan gelar Sarjana Hukum di Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman (STAINI). Di bulan Oktober pada tahun yang sama, saya mengikuti tes seleksi Program Bina Kawasan Kementerian Agama RI, hasilnya saya ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran Agama Islam di SMPN 1 SoE Kabupaten Timor Tengah Selatan, saya menyelesaikan tugas di wilayah minoritas muslim itu hingga Desember 2018.

Keinginan Kuat Belajar Bahasa Inggris

Hingga saat ini, saya sangat punya keinginan kuat untuk belajar Bahasa Inggris. Ini karena sudah menjadi kebutuhan di era milenial, selain itu juga merupakan amanah dari mendiang ayah. Saya punya cita-cita untuk membangun daerah saya dengan membangun Pondok Pesantren Modern yang wajib menggunakan bahasa Inggris dan Arab, berharap akan mampu mengubah tempat kelahiran saya menjadi lebih baik.

Saat mencari tempat belajar bahasa Inggris, saya mendengar kabar bahwa ada satu kampung di daerah Pare Kediri yang dijuluki “Kampung Inggris”. Saya begitu penasaran dan bertanya-tanya, apa benar di sana semua orang berbahasa Inggris? Metode seperti apa yang dipakai untuk melejitkan kemampuan bahasa Inggris untuk para siswanya? Maka dengan niat yang kuat, atas restu ibunda juga, berikut dengan uang pas-pasan, dan petunjuk dari seorang teman, saya nekat berangkat ke sana.

Perjalanan yang Panjang

Perjalanan dari Lampung ke Pare begitu panjang, harus menempuh jalur darat dan laut selama 15 jam, itu baru sampai di Jakarta, kemudian naik kereta di Pasar Senen untuk menuju Kediri yang memakan waktu hingga 14 jam. Setibanya di Stasiun Kediri, saya mesti menempuh perjalanan sekitar 30 km untuk menuju kampung Inggris.

Sesampainya di Pare, saya langsung mencari informasi lembaga kursus yang menyediakan beasiswa, karena saya hanya membawa uang pas-pasan yang mungkin hanya cukup untuk sebulan ke depan. Alhamdulillah lembaga besar yang membuka pendaftaran beasiswa, yaitu Global English (GE). Namun saya gagal di Teaching Clinic 15 itu. Setelah berdoa meminta jalan lain untuk belajar Bahasa Inggris ini, saya mendapatkan pesan seluler yang berisi tawaran Skill Program dari Global English. Program ini merupakan bentuk kerja sama antara saya dan GE, saya bertugas berkontribusi pada GE lewat keahlian yang saya miliki, GE memberi imbalan kursus gratis beserta penginapannya.

Kesempatan di Skill Program Global English

Keesokan harinya, saya mendapat kabar lagi. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos dan diberi kesempatan untuk mengikuti Skill Progam tersebut. Saya sangat bersyukur dapat belajar di Global English yang merupakan salah satu Lembaga kursus terbaik, terbesar dan terlengkap di Kampung Inggris. Semoga ini akan menjadi jalan menuju kesuksesan saya  di masa depan.

Kalau Anda juga penasaran dengan asyiknya belajar di Kampung Inggris, silakan kuatkan niatmu untuk belajar di sini, pasti Tuhan akan memberi kemudahan. “Karena banyak jalan menuju Roma...Eh, menuju Kampung Inggris”. Semoga termotivasi. (Budi Barakat)