Kisah di Balik Nama Kampung Inggris

By | 03/06/2019
kisah-di-balik-nama-kampung-inggris

Kampung Inggris Pare

Bagaimana sih kisah di balik sebutan Kampung Inggris buat Desa Tulungrejo, Pare itu? Mungkin kalau menelaah dari namanya, sebagian kalian membayangkan kampung ini tempat singgahnya para bule.

Pada nyatanya kampung ini adalah satu wilayah di Jawa Timur yang sering dikunjungi oleh orang-orang Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Pada beberapa kesempatan, ada juga satu atau dua bule yang singgah di sana.

Karena banyak pengunjungnya, kampung ini bersuasana seperti kampung metropolitan di samping suasananya masih sejuk dan asri. Kampung Inggris ini terletak di Desa Pelem, Tulungrejo, Pare.

Kisah kampung inggris

Seperti keadaan kampung pada umumnya, penduduk Tulingrejo mayoritas bermata pencaharian petani dan pedagang.

Sementara itu, julukan Kampung Inggris sendiri berawal dari perjuangan seorang perantau bernama Kalend Ossen, pemuda asal Kutai Kartanegara. Ia adalah seorang santri di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo yang memilih hengkang dari pendidikan karena kekurangan biaya.

Kemudian jiwa muda Kalend yang tidak ingin kebodohan menjajahnya, mengantarkan ia untuk berguru kepada kiai Yazid yang tinggal di daerah Pare, Kediri. Kiayi itu menguasai delapan bahasa. Kalend akhirnya belajar di pondok pesantren yang diasuh oleh kiai Yazid itu dengan bekal tekad saja.

Pada suatu kesempatan, saat kiai Yazid sedang bepergian, ada dua orang mahasiswa dari IAIN Surabaya yang sekarang dikenal dengan UIN Sunan Ampel Surabaya berkunjung ke rumah pak kiai. Mereka bermaksud untuk belajar Bahasa Inggris, untuk persiapan ujian yang akan diadakan dua minggu ke depan.

Mereka bisa datang ke Pare karena mendengar ada seorang kiai yang memiliki kemampuan berbahasa asing. Karena kiayi sedang tidak ada, istri kiai Yazid akhirnya menyuruh mereka untuk menemui Kalend yang saat itu tengah menyapu teras masjid.

Mereka menghampiri Kalend kemudian menyampaikan maksud kedatangannya dan menyerahkan kertas tebal berisi kurang lebih 360 soal, setelah meyakini dapat mengerjakan 60 persen dari soal tersebut, Kalend akhirnya menyetujui untuk membantu mereka belajar dengan waktu yang sangat singkat, kurang lebih satu minggu.

Setelah satu bulan, Kalend mendapat kabar bahwa mahasiswa tersebut lulus dengan nilai yang memuaskan. Akhirnya banyak adik-adik tingkat mereka yang ikut belajar kepada Kalend. Begitlah saat itu, promosi Pare berlangsung dari mulut ke mulut.

Hingga pada 15 Juni 1977, Kalend mendirikan lembaga kursus pertama di Desa Tulungrejo yang ia beri nama BEC atau Basic English Center. Para pembelajar di sana banyak yang memilih untuk menetap di Desa Tulungrejo.

Menjadi tujuan utama pembelajar bahasa inggris

Bahkan bukan hanya singgah, murid-muridnya akhirnya ikut mendirikan lembaga kursus juga. Hingga saat ini, telah tercatat sebanyak 200-an lembaga kursus di Kampung Inggris.

Banyak dari penjuru daerah yang penasaran dengan kampung inggris. Mereka tahu tentang kampung inggris melalui saudara, kerabat dekat, teman,guru atau artikel-artikel yang mereka baca tentang kampung mungil padat penduduk dari berbagai daerah ini.

Apalagi jika musim liburan datang, banyak lembaga sekolah yang mengirim anak didiknya untuk belajar Bahasa Inggris ke Kampung Inggris ini.

Tak hanya dapat ilmu, para pembelajar pun banyak yang bisa dapat jodoh.

Oiya dears, kampung mini metropolitan ini juga menjadi anugerah bagi penduduknya, karena bisa membuka ladang bisnis. Misalnya membuka bisnis penyewaan sepeda, motor, helm, bahkan mesin cuci. Banyak juga warga setempat yang menggunakan potensi besar ini untuk berdagang, menyewakan tanah, rumah bahkan teras mereka untuk dijadikan kelas ataupun kos kosan.

Hmmm… tapi belajar di teras bukan berarti belajar di sini terkesan menggelandang di emperan rumah warga, karena memang kebanyakan lembaga kursus mengajak para membernya untuk belajar dengan santai bersama alam.

Nah, begitulah sekelumit kisah di balik nama Kampung Inggris. Gimana, udah dapat tiket kendaraannya untuk belajar ke sana?